I. Menulis Puisi
Menulis puisi di era ini pada dasarnya tidak dibatasi oleh aturan apapun. Jika pada zaman dahulu puisi harus memerhatikan kesamaan rima, pemampatan makna, maka pada saat ini puisi lebih banyak ditulis dengan bebas untuk mengungkapkan perasaan penulis/penyair. Tetapi meskipun begitu, penulis/penyair juga tidak sepenuhnya meninggalkan kebiasaan pada puisi lama yang memiliki kekhasan dalam pemampatan bunyi dan makna yang dipakai. Sehingga puisi tetap memiliki informasi yang berkualitas ketika disampaikan kepada khalayak umum.
Cara menulis puisi ada berbagai macam. Berikut ini [mungkin] cara yang dapat dipilih, dan dicoba saat akan menulis puisi.
1. Menulis berdasarkan pengalaman. Menulis puisi berdasarkan pengalaman akan lebih mudah, sebab berkaitan dengan imaji indrawi. Perenungan [kotemplasi] lebih banyak memperoleh makna hidup [hikmah] yang dapat dijadikan sebagai puisi.
2. Mendengarkan dan Membaca karya. Mendengarkan atau membaca karya sebelum membuat karya dapat memberikan stimulant pada diri untuk membuat karya serupa tetapi tetap dengan khas individu. Tidak jarang beberapa sastrawan berkembang karena melihat karya segolongannya, namun kemudian setelah mahir mereka membuktikan bahwa diri memiliki ciri khas sendiri dengan banyak berlatih. Contoh pengalaman keinginan menjadi penyair oleh Joko Pinurbo karena ikut berguru pada Sapardi Djoko Danomo.
3. Mengalihkan Emosi pada Tulisan. Beberapa orang lebih mudah menulis karena saat emosi mendukung. Lalu lupa karena emosi telah berganti. Hal ini terjadi pada era milenial ini. banyak tulisan bertebaran di media sosial, karena pengalihan emosi yang diekspresikan melalui tulis. Cirinya terlihat, beberapa bahasa lebih mudah dicerna dengan bahasa lisan yang tertulis.
4. Mengalihkan Kritik Sosial pada Tulisan. Hal ini tidak jauh berbeda dengan cara ketiga. Berbedanya ini diawali dengan penyair membaca terlebih dahulu berita atau kejadian sosial di lingkungannya, kemudian ditulis menjadi kritik yang indah. Hal ini terlihat pada beberapa penyair yang puisinya berisi tentang realita sosial.
5. Mendeskripsikan dan Menganalogikan Lingkungan. Mendeskripsikan atau menggambarkan objek juga menjadi cara penulis/penyair dalam membuat puisi. Dari deskripsi, penyair lebih mudah mendapat kosa kata yang banyak. Selain itu, agar lebih bermakna, penyair biasanya menggunakan cara analogi, yaitu membandingkan dengan hal yang sifatnya serupa. Biasanya hal ini terlihat pada puisi yang menggunakan kata konkret, kata kias, dan beberapa kata perlambangan.
6. Merasakan lingkungan. Memperkuat diri dengan perasaan respek kepada lingkungan dapat memberikan pendalaman makna saat membuat puisi. Hal ini biasanya diikuti perenungan mendalam setelah melihat suatu hal yang biasa menjadi luar biasa.
Ada banyak cara dalam menulis puisi. Namun setiap orang memiliki caranya masing-masing. Ada kata seorang sastrawan ketika menuliskan puisi ialah saat seseorang menemukan momen puitik-nya. Hal yang dimaksudkan adalah saat seseorang menemukan rasa lingkungan yang cocok untuk mengungkapkan puisi sebagai perasaannya, yang jika diungkapkan di saat yang lain, rasanya akan hilang. Atau ketika tulisan tersebut dibaca pada saat yang berbeda, maka berbeda pula rasanya. Hal tersebut disebut momen puitik, momen yang istimewa bagi penyair. Sehingga terkadang menulisnya dapat di mana saja, dan kapan saja.
Komentar
Posting Komentar