Langsung ke konten utama

MATERI PUISI (CATATAN 3)

 E. Menganalisis Diksi dalam Puisi

Diksi kaitannya dengan kaidah bahasa, merupakan istilah untuk menyebut pemilihan kata pada karya sastra, termasuk dalam jenis puisi. Berikut ini kaidah diksi dalam puisi yang umum dijumpai.

1.Makna kias (Konotatif)

Makna yang menyatakan bukan arti sebenarnya. Makna yang diungkapkan bukan milik kata sebagaimana kata dibentuk. Hal ini digunakan penyair untuk lebih memerdalam, memerindah, dan mengungkapkan maksud yang ada dalam puisi. Lihat contoh pada halaman berikutnya.

Aku

Karya: Chairil Anwar

...

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

… … … … … … … … …

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih perih

… … … … … … … … …

 

Larik binatang jalang dari kumpulannya terbuang dapat diartikan orang yang selalu bersikap memberontak dan berada di luar organisasi formal. Penyair memilih kata ‘binatang jalang’ untuk menggambarkan bahwa ‘aku’ adalah orang yang tidak bisa mengikuti aturan atau norma sosial yang berlaku. Dalam kehidupan nyata, orang-orang seperti ini menjadi orang terbuang, tidak diakui keberadaannya. Oleh karena itu, Chairil memilih kata ‘terbuang.’

 

2. Lambang (Simbol)

lambang dalam puisi merupakan pengganti suatu hal/benda dengan benda lain. Ada lambang yang bersifat lokal, kedaerahan, nasional, ada juga yang bersifat universal (berlaku untuk semua manusia). Misalnya, bendera adalah lambang identitas negara dan bersalaman adalah lambang persahabatan, pertemuan, atau perpisahan.

 

3. Persamaan Bunyi atau Rima

Pemilihan kata dalam sebuah baris puisi maupun dari satu baris ke baris yanglain mempertimbangkan kata-kata yang mempunyai persamaan bunyi yang harmonis. Misalnya puisi berikut ini.

Doa

Karya: Chairil Anwar

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh

Mengingat kau penuh seluruh

… … … … … … … … … … … …

Tuhanku

Aku hilang remuk bentuk

Remuk

… … … … … … … … … … … …

Dalam puisi di atas, Chairil Anwar dengan cermat memilih kata-kata yang secara bunyi menghasilkan persamaan bunyi. Persamaan bunyi itu membuat puisi semakin indah ketika dibacakan.

 

Berdasarkan perbedaan bunyi akhir, Rima memiliki beraga, bentuk yang dapat dilihatdari lajur ke bawah (vertical) di antaranya sebagai berikut.

a. Rima sejajar berpola : a-a-a-a

b. Rima kembar berpola: a-a-b-b

c. Rima berpeluk berpola: a-b-b-a

d. Rima bersilang pola : a-b-a-b

 

Kedua, rima akhir dapat dilihat secara horizontal (persamaan bunyi pada setiap kata dalam baris), yaitu sebaai berikut.

a. Aliterasi yaitu persamaan bunyi konsonan pada setiap kata dalam satu baris.

b. Asonansi yaitu persamaan vocal pada akhir kata dalam satu baris.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATERI PUISI (CATATAN 2)

  D. Cara Membaca Puisi Cara membaca puisi sebenarnya tergantung pada cara masing-masing individu memahami, dan merasakan puisi yang dibaca. Tetapi apabila hendak ingin diperdengarkan pada khalayak umum, apalagi menyampaikan isi yang dimaksud, maka cara pembacaan puisi harus diperhatikan dengan baik dan benar. Berikut ini cara dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca puisi. 1.   Rima dan irama, artinya dalam membaca puisi tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat. Membaca puisi berbeda dengan membaca sebuah teks biasa karena puisi terikat oleh rima dan irama sehingga dalam membaca puisi tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat. 2.   Atikulasi atau kejelasan suara, artinya suara yang diungkapkan harus jelas, misalnya saja dalam melafalkan huruf-huruf vocal /a/,/i/,/u/,/o/,/e/,/ai/,/au/, dan lain-lain. 3.   Ekspresi mimic wajah. Artinya ekspresi wajah kita harus bisa disesuaikan dengan isi puisi. Ketika puisi yang kita bacakan adalah puisi sedih, ma...

PUISI 1

Melihat Kata Melihat kata pernahkah engkau melihat kata yang menyadari mana asal muasalnya Melihat kata pernahkah engkau melihat mengapa huruf-huruf itu berbentuk begini tidak sebaliknya Melihat kata coba lepaskan... barangkali, engkau tak kan mendapat apa-apa dari sebuah kata Jombang, 25 November 2020 Devi Nur Sugiarti