Langsung ke konten utama

MATERI PUISI (CATATAN 5)

G. Kaidah Bahasa Konkret dalam Puisi

Kata konkret adalah kata yang memungkinkan muncunya imaji karena dapat ditangkap oleh indra. Hal ini berkaitan dengan kemampuan wujud fisik objek yang dimaksud dalam kata itu untuk membangkitkan imajinasi pembaca. Contoh kata’salju’ yang berwarna putih dan rasanya dingin bisa digunakan untuk menyampaikan makna kias tentang kesucian, kehampaan, dan rasa dingin.

 

Dari konsep makna yang terdapat dalam ‘salju’ tersebut, penyair bisa memilih kata salju untuk menggambarkan, misalnya rasa rindu. Rasa rindu hanya tumbuh pada seseorang yang cintanya suci, tetapi menimbulkan kesedihan di hati yang mengalaminya.

 

Dengan kata konkret, pembaca dapat membayangkan secara jelas peristiwa atau keadaan yang dilukiskan penyair. Pengonkretan kata ini berhubungan erat dengan pengimajian, perlambangan, dan pengiasan. Ketiga hal itu juga memanfaatkan gaya bahasa untuk memperjelas apa yang ingin dikemukakan.

 

H. Rima/Retme dalam Puisi

Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf vocal dan atau kata-kata yang ada di dalam larik dan bait. Sementara itu, irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanyarima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya (karena sifat-sifat konsonan dan vocal), atau panjang pendek kata.

Dengan kata lain, rima adalaha salah satu unsur pembentuk irama, namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama dapat menciptakan efek musikalisasi pada puisi, membuat puisi menjadi indah, dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan.

Berdasarkan jenis bunyi yang diulang, ada 8 jenis rima yaitu sebagai berikut.

1. Rima sempurna, yaitu persamaan bunyi pada suku-suku kata terakhir.

2. Rima tak sempurna, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir.

3. Rima Mutlak, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak (suku kata sembunyi).

4. Rima terbuka, yaitu persamaan buni yang terdapat pada suku akhir terbuka atau dengan vocal sama.

5. Rima tertutup, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata tertutup (konsonan).

6. Rima aliterasi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yangsama atau baris yang berlainan.

7. Rima asonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vocal tengah kata.

8. Rima disonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada huruf-huruf mati/konsonan.

 

Perhatikan contoh analisis rima/ritme berikut ini.

Menyesal

Karya: Ali Hamsjmy

Pagiku hilang / sudah melayang

Hari mudaku / telah pergi

Kini petang / datang membayang

Batang usiaku / sudah tinggi

… … … … … … … … … …

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATERI PUISI (CATATAN 2)

  D. Cara Membaca Puisi Cara membaca puisi sebenarnya tergantung pada cara masing-masing individu memahami, dan merasakan puisi yang dibaca. Tetapi apabila hendak ingin diperdengarkan pada khalayak umum, apalagi menyampaikan isi yang dimaksud, maka cara pembacaan puisi harus diperhatikan dengan baik dan benar. Berikut ini cara dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca puisi. 1.   Rima dan irama, artinya dalam membaca puisi tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat. Membaca puisi berbeda dengan membaca sebuah teks biasa karena puisi terikat oleh rima dan irama sehingga dalam membaca puisi tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat. 2.   Atikulasi atau kejelasan suara, artinya suara yang diungkapkan harus jelas, misalnya saja dalam melafalkan huruf-huruf vocal /a/,/i/,/u/,/o/,/e/,/ai/,/au/, dan lain-lain. 3.   Ekspresi mimic wajah. Artinya ekspresi wajah kita harus bisa disesuaikan dengan isi puisi. Ketika puisi yang kita bacakan adalah puisi sedih, ma...

MATERI PUISI (CATATAN 3)

  E. Menganalisis Diksi dalam Puisi Diksi kaitannya dengan kaidah bahasa, merupakan istilah untuk menyebut pemilihan kata pada karya sastra, termasuk dalam jenis puisi. Berikut ini kaidah diksi dalam puisi yang umum dijumpai. 1.Makna kias (Konotatif) Makna yang menyatakan bukan arti sebenarnya. Makna yang diungkapkan bukan milik kata sebagaimana kata dibentuk. Hal ini digunakan penyair untuk lebih memerdalam, memerindah, dan mengungkapkan maksud yang ada dalam puisi. Lihat contoh pada halaman berikutnya. Aku Karya: Chairil Anwar ... Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang … … … … … … … … … Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih perih … … … … … … … … …   Larik binatang jalang dari kumpulannya terbuang dapat diartikan orang yang selalu bersikap memberontak dan berada di luar organisasi formal. Penyair memilih kata ‘binatang jalang’ untuk menggambarkan bahwa ‘aku’ adalah orang yang tidak bisa mengikuti aturan atau norma so...

PUISI 1

Melihat Kata Melihat kata pernahkah engkau melihat kata yang menyadari mana asal muasalnya Melihat kata pernahkah engkau melihat mengapa huruf-huruf itu berbentuk begini tidak sebaliknya Melihat kata coba lepaskan... barangkali, engkau tak kan mendapat apa-apa dari sebuah kata Jombang, 25 November 2020 Devi Nur Sugiarti