Langsung ke konten utama

MATERI PUISI (CATATAN 4)

 

F. Imaji dalam Puisi

Pengimajian dalam puisi dapat dilihat dari kata atau susunan yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris atau indrawi berupa penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Umumnya terdapat hubungan erat antara diksi, pengimajian, dan kata konkret. Diksi yang dipilih harus menghasilkan pengimajian sehingga menjadi kata konkret, seperti yang dapat dihayati melalui penglihatan, pendengaran, atau cita rasa. Berikut ini jenis imaji dalam puisi.

1. Imaji Visual (pengimajian dengan menggunakan kata-kata yang menggambarkan seolah-olah objek yang dicitrakan dapat dilihat). Contoh:

Gadis Peminta-minta

Karya: Toto S. Bachtiar

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil

Senyummu terlaly kekal untuk kenal duka

Tengadah padaku, pada bulan merah jambu

Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

… … … … … … … … … … … …

2. Imaji Auditif ( pengimajian dengan menggunakan kata-kata ungkapan seolah-olah objek yang dicitrakan sungguh-sungguh didengar oleh pembaca). Berikut contohnya.

 

Asmaradana

Karya: Goenawan Mohamad

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan daun karena angina pada kemuning.

Ia dengar resah kuda serta langkah pedati

Ketika langit bersih menampakkan bima sakti

… … … … … … … … … … … … … … …

 

3. Imaji Taktil (pengimajian dengan menggunakan kata-kata yang mempu memengaruhi perasaan pembaca sehingga ikut terpengaruh perasaannya). Berikut cohtohnya.

Yang Terampas dan Yang Putus

Karya: Chairil Anwar

Kelam dan angina lalu mempesiang diriku

Menggigit juga ruang di mana dia yang kuingin

Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

Di karet, di karet (daerahku yang akan datang)

Sampai juga deru dingin

Alu berbenah dalam kamar,

dalam diriku jika kau datang

dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu

tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

Tubuhku diam dan sendiri,

cerita dan peristiwa berlalu beku

… … … … … … … … … … …

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATERI PUISI (CATATAN 2)

  D. Cara Membaca Puisi Cara membaca puisi sebenarnya tergantung pada cara masing-masing individu memahami, dan merasakan puisi yang dibaca. Tetapi apabila hendak ingin diperdengarkan pada khalayak umum, apalagi menyampaikan isi yang dimaksud, maka cara pembacaan puisi harus diperhatikan dengan baik dan benar. Berikut ini cara dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca puisi. 1.   Rima dan irama, artinya dalam membaca puisi tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat. Membaca puisi berbeda dengan membaca sebuah teks biasa karena puisi terikat oleh rima dan irama sehingga dalam membaca puisi tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat. 2.   Atikulasi atau kejelasan suara, artinya suara yang diungkapkan harus jelas, misalnya saja dalam melafalkan huruf-huruf vocal /a/,/i/,/u/,/o/,/e/,/ai/,/au/, dan lain-lain. 3.   Ekspresi mimic wajah. Artinya ekspresi wajah kita harus bisa disesuaikan dengan isi puisi. Ketika puisi yang kita bacakan adalah puisi sedih, ma...

MATERI PUISI (CATATAN 3)

  E. Menganalisis Diksi dalam Puisi Diksi kaitannya dengan kaidah bahasa, merupakan istilah untuk menyebut pemilihan kata pada karya sastra, termasuk dalam jenis puisi. Berikut ini kaidah diksi dalam puisi yang umum dijumpai. 1.Makna kias (Konotatif) Makna yang menyatakan bukan arti sebenarnya. Makna yang diungkapkan bukan milik kata sebagaimana kata dibentuk. Hal ini digunakan penyair untuk lebih memerdalam, memerindah, dan mengungkapkan maksud yang ada dalam puisi. Lihat contoh pada halaman berikutnya. Aku Karya: Chairil Anwar ... Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang … … … … … … … … … Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih perih … … … … … … … … …   Larik binatang jalang dari kumpulannya terbuang dapat diartikan orang yang selalu bersikap memberontak dan berada di luar organisasi formal. Penyair memilih kata ‘binatang jalang’ untuk menggambarkan bahwa ‘aku’ adalah orang yang tidak bisa mengikuti aturan atau norma so...

PUISI 1

Melihat Kata Melihat kata pernahkah engkau melihat kata yang menyadari mana asal muasalnya Melihat kata pernahkah engkau melihat mengapa huruf-huruf itu berbentuk begini tidak sebaliknya Melihat kata coba lepaskan... barangkali, engkau tak kan mendapat apa-apa dari sebuah kata Jombang, 25 November 2020 Devi Nur Sugiarti