Langsung ke konten utama

KUMPULAN MATERI TEKS DEBAT BAHASA INDONESIA

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               Contoh Kegiatan Debat

Kegiatan Debat

A. Pengertian Debat

Debat adalah kegiatan yang melibatkan dua orang atau lebih dalam bertukar pendapat dengan mengemukakan berbagai alasan, meskipun antarpihak berada pada sudut padang yang berbeda.[Paket hal. 175]

 

B. Struktur Bagian [Unsur-unsur] dalam Debat

1. Mosi/Tema. Permasalahan yang dibahas atau diajukan dalam debat. Disebut juga topik bahasan.
2. Pro/Afirmasi. 
Kelompok pendukung suatu tema.

3. Kontra/Oposisi. Kelompok penolak suatu tema. Kelompok ini menjadi lawan dari kelompok sebelumnya.

4. Netral. Kelompok pemberi pendapat netral, yang tidak memihak afirmasi atau oposisi.

5. Penonton/Juri yang dipanggil. Biasanya menyaksikan perdebatan, atau sebagai perwakilan untuk memberikan pendapat.

6. Moderator. Pembawa dan pengatur jalannya acara perdebatan.

7. Penulis/Notula. Biasanya mencatat setiap hasil, dan kejadian yang terdapat dalam forum debat. Notulis adalah sebutan penulis, sedangkan notulen adalah sebutan hasil tulisan. [paket hal. 179]

 

C. Menyusun Kalimat Pendapat berdasarkan Mosi yang Disajikan.

Tata cara menulis pendapat:

1. Menganalisis topik bahasan sesuai dengan pengalaman keseharian.

2. Menyusun kalimat dukungan disertai alasan;

3. Menyusun kalimat negasi [penolakan] disertai alasan;

4. Menyusun kalimat netral disertai alasan berimbang.

 

D. Cara Menyimpulkan Hasil Debat
Simpulan dalam debat disusun berdasarkan pendapat dan argument yang telah disampaikan. Penalaran yang digunakan dalam menyusun simpulan debat termasuk dalam penalaran induktif. Berikut 3 jenis cara untuk menarik kesimpulan dengan menggunakan penalaran induktif.

1. Generalisasi. Penarikan kesimpulan diawali dengan mengumpulkan pernyataan-pernyataan bersifat khusus, fenomena-fenomena khusus kemudian ditarik penyataan yang bersifat general (umum). Penyataan general ini diperoleh dengan melihat yang khusus tersebut memiliki kemiripan jenis, sifat, atau karakter yang sama, sehingga dapat di-generalisasikan.

2. Analogi. Penarikan kesimpulan didasarkan atas perbandingan dua hal yang berbeda. Akan tetapi, karena mempunyai kesamaan segi, fungsi, atau ciri, kemudian keduanya dibandingkan (disamakan). Kesamaan keduanya inilah yang menjadi dasar penarikan simpulan.

3. Sebab-Akibat. Penarikan kesimpulan secara induk-tif lainnya berupa hubungan pola sebab-akibat. Dengan pola penalaran ini, sebab dapat menjadi gagasan utamanya, sedangkan akibat menjadi gagasan penjelasnya. Atau dapat berarti s’baliknya. Beberapa sebab dapat menjadi gagasan penjelas, sedangkan akibat menjadi gagasan utamanya. Dalam debat, penarikan simpulan dilakukan setelah pernyataan pendapat dan argument disampaikan lebih dulu maka pola yang kedua lebih tepat. Oleh karena itu, akibat menjadi gagasan utama, sedangkan sebab-sebabnya menjadi gagasan penjelas yang disampaikan lebih dulu.  (Paket, hal. 189-190)

 

E. Identifikasi Ragam Bahasa Debat

Ragam debat yang dipelajari dalam bab ini ialah debat ilmiah bukan debat kusir. Sebab, debat kusir bertujuan mengalahkan pendapat pihak lain seringkali dilakukan tanpa memerdulikan kesahihan argument yang disampaikan.

Sehingga dalam debat kali ini menggunakan ragam bahasa ilmiah. Tujuannya untuk menghindari salah tafsir, baik dalam penggunaan bahasa tulis maupun bahasa lisan, kelengkapan, kecermatan, dan kejelasan pengungkapan ide harus diperhatikan.

Berikut ini adalah ciri ragam bahasa ilmiah.

1. Kaidah bahasa Indonesia yang digunakan harus benar sesuai dengan kaidah bahaa baku, baik kaidah tata ejaan maupun tata bahasa (pembentukan kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf).

2. Ide yang diungkapkan harus benar sesuai dengan fakta dan dapat diterima oleh akal sehat (logis), harus tepat, dan hanya memiliki satu makna, padat, langsung menuju sasaran, runtun, dan sistematis. Hal ini tergantung pada ketepatan pemilihan kata (diksi) dan penyusunan struktur kalimat sehingga kalimat yang digunakan efektif.

3. Kata yang dipilih memiliki makna sebenarnya (denotatif).

Bahasa baku adalah bahasa yang telah ditetapka sebaai ragam bahasa yang dapat diterima dan berfungsi sebagai model untuk suatu masyarakat. Ada tiga aspek dalama bahasa baku yang saling menyatu yaitu, kodofikasi, keberterimaan, dan difungsikan sebagai model.

 

Selain itu, dalam debat sebaiknya penggunaan kata-kata berbahasa daerah atau asing, bahasa prokem, dan bahasa gaul harus diminimalkan. Hal ini bertujuan agar terhindar dari ketersinggungan dan mengakibatkan acara debat karena antarpihak tidak saling memahami kata yang digunakan.

Contoh:

1) Pemerintah seharusnya tidak menutup mata pada fakta bahwa UN telah memakan banyak korban;

2) Banyak banget siswa jatuh bergelimpangan karena takut gagal dalam Ujian Nasional.

Kalimat (1) dan kalimat (2) di atas merupakan contoh kalimat tidak baku. Ketidakbakuan kalimat (1) dan (2) karena menggunakan frasa bermakna konotatif yaitu frasa menutup mata dan jatuh bergelimpangan. Pada kaliimat kedua, ketidakefektifan kalimat juga disebabkan penggunaan kata-kata dari bahasa daerah yaitu kata banget.

 

Pembenahan kedua kalimat di atas agar menjadi kalimat ragam ilmiah yang baku dapat kamu lihat pada bagian berikut.

1) Pemerintah seharusnya peduli pada fakta bahwa UN telah memakan banyak korban.

2) Banyak sekali siswa frustasi karena takut atau gagall dalam Ujian Nasional

 

CONTOH PRAKTIK DEBAT LISAN

http://youtube.com/watch?v=h5gZJA7kcjI

http://youtube.com/watch?v=g6eTS3FenOU

http://youtube.com/watch?v=ROcytw_jfKk

http://youtube.com/watch?v=KhDk9rovPjk

Sumber tulisan materi: Buku Paket Bahasa Indonesia K-13 Edisi tahun 2017 Kemendikbud.

 

Materi Tambahan

F. Debat Tulis

Perkembangan teknologi membawa dampak begitu besar bagi aktifitas manusia. Termasuk dalam dunia komunikasi. Aktifitas debat terhadap suatu hal termasuk satu di antara kegiatan komunikasi. Debat yang cenderung menggunakan lisan, kini dapat dilakukan secara tertulis langsung dalam jaringan. Keberadaan media sosial dengan komentar terbuka, membuat kegiatan debat tertulis tersebut secara langsung dapat terlihat oleh khalayak umum sesama pengguna media. Contoh media sosial yang menyediakan fitur komentar terbuka ialah WhatsApp dalam grup, Instagram, Facebook, Twitter, Telegram dalam Grup, Youtube dalam Live Chat, dan platform (program) lainnya. 

 

Lalu siapa pelaku debat?

 

Pelaku debat tertulis sebagaimana pelaku dalam debat lisan. Tim Pro atau Tim Kontra akan terlihat dalam komentar yang dilayangkan di media sosial tersebut. Notulen tidak ada. Notulen sudah termasuk dalam pelaku yang Pro atau Kontra. Sedangkan Tim Netral terlihat pada bagaimana khalayak memberikan respon, baik terbuka langsung, maupun hanya sebagai pengamat saja. Tema atau Mosi terlihat dari apa yang sedang di-posting oleh pelaku media sosial. Dalam hal ini pemilik akun media sosial yang mem-posting tema sekaligus menjadi moderator, sebab pemilik akunlah yang akan mengendalikan jalannya komentar.


G. Sikap Debat.

Berdebat boleh dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui suatu persoalan untuk dapat ditindaklanjuti atau dievaluasi. Dalam perilaku ini, debat membutuhkan sikap yang tidak menyakiti lawan debat. Juga tidak dilandasi oleh emosi yang berlebihan untuk menjatuhkan lawan. Hal ini dimaksudkan agar tidak saling memendam rasa kekecewaan apalagi dendam. Sehingga persoalan yang hendak diselesaikan dalam debat tidak memberikan dampak yang begitu besar di kemudian hari. 
 
Jombang, 9 Januari 2021
Devi Nur Sugiarti


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATERI PUISI (CATATAN 2)

  D. Cara Membaca Puisi Cara membaca puisi sebenarnya tergantung pada cara masing-masing individu memahami, dan merasakan puisi yang dibaca. Tetapi apabila hendak ingin diperdengarkan pada khalayak umum, apalagi menyampaikan isi yang dimaksud, maka cara pembacaan puisi harus diperhatikan dengan baik dan benar. Berikut ini cara dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca puisi. 1.   Rima dan irama, artinya dalam membaca puisi tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat. Membaca puisi berbeda dengan membaca sebuah teks biasa karena puisi terikat oleh rima dan irama sehingga dalam membaca puisi tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat. 2.   Atikulasi atau kejelasan suara, artinya suara yang diungkapkan harus jelas, misalnya saja dalam melafalkan huruf-huruf vocal /a/,/i/,/u/,/o/,/e/,/ai/,/au/, dan lain-lain. 3.   Ekspresi mimic wajah. Artinya ekspresi wajah kita harus bisa disesuaikan dengan isi puisi. Ketika puisi yang kita bacakan adalah puisi sedih, ma...

MATERI PUISI (CATATAN 3)

  E. Menganalisis Diksi dalam Puisi Diksi kaitannya dengan kaidah bahasa, merupakan istilah untuk menyebut pemilihan kata pada karya sastra, termasuk dalam jenis puisi. Berikut ini kaidah diksi dalam puisi yang umum dijumpai. 1.Makna kias (Konotatif) Makna yang menyatakan bukan arti sebenarnya. Makna yang diungkapkan bukan milik kata sebagaimana kata dibentuk. Hal ini digunakan penyair untuk lebih memerdalam, memerindah, dan mengungkapkan maksud yang ada dalam puisi. Lihat contoh pada halaman berikutnya. Aku Karya: Chairil Anwar ... Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang … … … … … … … … … Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih perih … … … … … … … … …   Larik binatang jalang dari kumpulannya terbuang dapat diartikan orang yang selalu bersikap memberontak dan berada di luar organisasi formal. Penyair memilih kata ‘binatang jalang’ untuk menggambarkan bahwa ‘aku’ adalah orang yang tidak bisa mengikuti aturan atau norma so...

PUISI 1

Melihat Kata Melihat kata pernahkah engkau melihat kata yang menyadari mana asal muasalnya Melihat kata pernahkah engkau melihat mengapa huruf-huruf itu berbentuk begini tidak sebaliknya Melihat kata coba lepaskan... barangkali, engkau tak kan mendapat apa-apa dari sebuah kata Jombang, 25 November 2020 Devi Nur Sugiarti